BRIN Tingkatkan Teknologi Terbarukan Bakteri Ungu Menjadi Energi Listrik

Berita Trend Indonesia – Seperti yang kita tahu, saat ini isu tentang kerusakan lingkungan sedang marak terjadi di negara Indonesia.

Sebagai informasi bahwa definisi dari kerusakan lingkungan ialah penurunan kualitas lingkungan hidup yang disebabkan oleh sejumlah peristiwa alam atau perbuatan buruk manusia, contoh dari kerusakan lingkungan ialah seperti menurunnya kualitas air, udara, tanah, punahnya flora dan fauna, dan kerusakan ekosistem alam.

Kerusakan lingkungan tidak boleh disepelekan, karena kerusakan lingkungan dapat berdampak negatif signifikan terhadap kehidupan manusia, yakni meningkatkan frekuensi bencana alam seperti tanah longsor, banjir, wabah penyakit, dan sosial-ekonomi.

Berdasarkan data yang ada, maka dijelaskan bahwa kerusakan lingkungan dapat terjadi karena sejumlah faktor, yakni karena faktor alam (bencana alam, kondisi gografis dan cuaca). Faktor ulah atau kelakuan buruk manusia (pencemaran polusi, penebangan hutan secara liar, pembuangan sampah sembarangan, dan aktivitas pemanasan global).

Oleh karena itu, saat ini pemerintah sedang berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan transformasi energi yang lebih ramah lingkungan dan mengembangkan energi bersih berkelanjutan.

Baru-baru ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan bahwa pihaknya akan mulai mengembangkan teknologi energi terbarukan melalui inovasi sel surya bio-fotovoltaik berbasis pigmen fotosintesis dari bakteri ungu (Rhodobacter sphaeroides).

Pengembangan teknologi bakteri ungu menjadi energi listrik merupakan kolaborasi antara pihak BRIN dengan University of Bristol melalui Prof. Mike Jones serta para peneliti dari Vrije Universiteit Amsterdam.

Bakteri ungu merupakan suatu kelompok mikroorganisme fotorofik yang mampu menghasilkan energi melalui fotosintesis anoksigenik (tidak menghasilkan oksigen). Bakteri ungu ini juga disebut sebagai pigmen khusus yang mampu melakukan fotosintetik yang pada akhirnya mampu membuat warna mereka berubah menjadi ungu, merah atau coklat, dan biasanya bakteri ini mempunyai bentuk seperti batang (basil).

Menurut Perekayasa Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN Tulus, penelitian pengembangan bakteri ungu menjadi energi listrik merupakan teknologi pemanfaatan protein kompleks fotosintesis reaction center-loght harvesting 1 (RC-LH1), dimana teknologi tersebut bekerja dengan menyerap cahaya pada perangkat sel surya yang akan digunakan sebagai cadangan sumber energi.

Pada pelaksanaannya, maka material biologis atau bakteri ungu tersebut akan dikombinasikan dengan sejumlah lapisan semikonduktor untuk menghantarkan muatan listrik ketika terpapar cahaya matahari langsung.

Dalam melakukan pengembangan tersebut, pihak penelitian menggunakan alat berbasis struktur elektroda berlapis indium tin oxide (ITO), zinc oxide (ZnO), dan fullerene (C60) untuk mengumpulkan elektron yang dihasilkan oleh material biologis terhadap sinar surya.

Tulus mengaku bahwa pada prinsipnya, fotosintesis dan fotovoltaik memiliki kesamaan, yaitu sama-sama memanfaatkan energi cahaya matahari. Fotosintesis mengubah energi cahaya menjadi energi kimia, sedangkan fotovoltaik mengubahnya menjadi energi listrik.

Kelebihan

Foto Bakteri ungu – Gambar Biru Gratis di Unsplash

Perekayasa Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN Tulus mengatakan, bakteri ungu sendiri mempunyai keunggulan yakni mampu berkembang secara efektif dalam melakuman fotosintesis dan mampu memisahkan kuantum yang tinggi dengan kemampuan pemisah yang cukup baik, efektif, efisien, dan terbarukan.

Oleh karena adanya kemampuan yang hebat dari bakteri ungu, mampu mampu menjadikan bakteri ungu sebagai penghantar pengonversi cahaya menjadi energi listrik yang sangat baik dan sangat mendukung penuh dalam pengembangan teknologi bio-fotovoltaik.

Tulus mengaku bahwa teknologi pengembangan bakteri ungu menjadi energi listrik merupakan pengembangan jilid tiga dari kategori sel surya yang merupakan bagian teknologi dari fotoboltaik baru (emerging photovoltaics).

Berdasarkan hasil penelitian dari BRIN, pengembangan bakteri ungu menjadi energi listrik juga merupakan pengembangan terbaik dalam sejarah pada bidang bio-fotovoltaik dalam parameter open circuit voltage.

Tulus menjelaskan, saat ini pihaknya berkomitmen dan optimis bahwa pengembangan bakteri ungu menjadi energi listrik akan berhasil sempurna 100 persen, dan kedepannya kita dapat menggunakan energi ini sebagai energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, serta tidak ketergantungan terhadap bahan baku fosil atau batu bara.

Related posts